Tewaskan 127 Suporter, Tragedi di Kanjuruhan Jadi yang Terburuk Kedua di Dunia

Ada 127 suporter dilaporkan tewas usai Arema FC kalah lawan Persebaya Surabaya 2-3 di Liga 1 2022.

Minggu, 02 Oktober 2022 | 11:42 WIB
Sejumlah penonton membawa rekannya yang pingsan akibat sesak nafas terkena gas air mata yang ditembakkan aparat keamanan saat kericuhan usai pertandingan antara Arema FC vs Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022). (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/tom)

Sejumlah penonton membawa rekannya yang pingsan akibat sesak nafas terkena gas air mata yang ditembakkan aparat keamanan saat kericuhan usai pertandingan antara Arema FC vs Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022). (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/tom)

Bolatimes.com - Tragedi tewasnya ratusan suporter usai Arema FC kalah lawan Persebaya Surabaya menyisakan catatan kelam dalam sejarah sepak bola Indonesia. Insiden ini menjadi yang terburuk kedua di dunia.

Tewasnya 127 korban ini, menjadi kasus kematian suporter terbanyak kedua setelah insiden yang terjadi di Peru pada 1964 silam.

Melansir dari Suara.com, Minggu (2/10/2022), insiden kerusuhan hingga berbuntut tewasnya sejumlah suporter ini pernah terjadi di berbagai negara.

Baca Juga: Cerita Pemain Persebaya: 5 Menit Masuk Ruang Ganti dan Satu Jam Tertahan di Mobil Barakuda

Dari catatan sejarah sepakbola hingga kerusuhan yang pernah terjadi, korban suporter tewas terbanyak ada 328 orang. Insiden itu terjadi saat Timnas Argentina mengalahkan Timnas Peru dalam pertandingan kualifikasi Olimpiade di Estadio Nacional, Lima, Peru pada 24 Mei 1964.

Di urutan kedua adalah kerusuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang yang menelan 127 korban jiwa. Kepolisian juga melaporkan masih ada 180 orang yang tengah menjalani perawatan.

"Dalam kejadian tersebut telah meninggal 127 orang. Dua diantaranya adalah Anggota Polri," ujar Kapolda Jatim, Irjen Pol Nico Afinta, Minggu dini hari.

Baca Juga: Jadwal Piala Asia Futsal 2022 Hari Ini: Misi Lolos ke Perempatfinal, Indonesia Wajib Menang Lawan Taiwan

Urutan ketiga dengan suporter tewas terbanyak terjadi di Acara Sports Stadium, Accra, Ghana, 9 Mei 2001. Sejarah mencatat derby Liga Utama Ghana, antara tuan rumah Hearts of Oak menjamu Asante Kotoko berakhir dengan kerusuhan hingga menelan korban 126 orang.

Pada urutan keempat hingga ke-11 kasus tewasnya suporter terbanyak, lebih banyak terjadi di luar negeri setelah Indonesia, berikut beberapa rangkumannya:

Keempat, tercatat 96 tewas dan ratusan terluka di Stadion Hillsborough yang penuh sesak. Peristiwa ini terjadi babak semifinal Piala FA yang mempertemukan Liverpool dan Nottingham Forest pada 15 April 1989.

Baca Juga: Presiden Jokowi Perintahkan PSSI untuk Hentikan Sementara Liga 1 usai Tragedi di Stadion Kanjuruhan

Kelima, ada 93 orang tewas ketika ribuan penggemar sepak bola yang berdesakan ke pintu keluar stadion yang terkunci untuk menyelamatkan diri ketika tiba-tiba terjadi badai. Hal itu terjadi pada 12 Maret 1988 Kathmandu, Nepal

Keenam, tercatat 84 orang tewas dan 147 lainnya terluka saat kualifikasi Piala Dunia antara Guatemala dan Kosta Rika yang digelar pada 16 Oktober 1996 di Guatamela City.

Ketujuh, sebanyak 74 orang tewas dan lebih dari 150 lainnya terluka setelah pertandingan River Plate vs Boca Juniors. Dari kerusuhan itu, 71 orang tewas adalah pendukung Boca Juniors yang terjadi pada 23 Juni 1968 di Buenos Aires, Argentina.

Baca Juga: Sebelum Tragedi Tewasnya Suporter, Panpel Arema FC Sempat Usul Laga Digelar Sore tapi Ditolak PT LIB

Kedelapan, 74 orang tewas dan lebih dari 500 lainnya terluka setelah pertandingan antara al-Masry dan al-Ahly. Kejadian ini membuat Liga Mesir dihentikan selama satu tahun, yang pada waktu itu dihelat 1 Februari 2012 di Port Said.

Kesembilan, total sebanyak 66 orang tewas saat penonton meninggalkan pertandingan Piala UEFA antara Spartak Moscow dan Haarlem, dari Belanda, di Stadion Luzhniki pada 20 Oktober 1982 di Moskow, Rusia.

Kesepuluh, dengan jumlah yang sama yaitu 66 orang dilaporkan tewas seusai laga di Stadion Ibrox Park di Glasgow antara Glasgow Celtic dan Glasgow Rangers. Tragedi itu terjadi karena pembatas runtuh ketika ribuan penggemar berjalan keluar dari stadion. Peristiwa terjadi pada 2 Januari 1971 di Glasgow, Skotlandia.

Kesebelas, sebanyak 39 orang tewas dalam kerusuhan yang terjadi pada final Piala (Liga) Champions antara Liverpool dan Juventus di Stadion Heysel, Brussel, Belgia. Saat itu terjadi pada 29 Mei 1985, di Brussel, Belgia.

Berita Rekomendasi
Berita Terkait
TERKINI

Ultras Garuda peringatkan Patrick Kluivert

bolaindonesia | 18:25 WIB

Shin Tae-yong menitip pesan untuk Nova Arianto

bolaindonesia | 11:03 WIB

Inilah deretan komentar legendaris Shin Tae-yong selama lima tahun melatih Timnas Indonesia

bolaindonesia | 16:56 WIB

Mitchel Bakker bermain di Lille yang berkompetisi di Liga Champions

bolaindonesia | 11:22 WIB

Impian terbesar seluruh pecinta sepak bola Indonesia

bolaindonesia | 12:35 WIB

Marselino Ferdinan meminta maaf dan tidak ingin menyalahkan siapapun

bolaindonesia | 22:24 WIB

Malaysia resmi menunjuk Peter Cklamovski sebagai pelatih baru

bolaindonesia | 20:44 WIB

Jika menang, maka Timnas Indonesia akan lolos ke semifinal Piala AFF 2024

bolaindonesia | 23:30 WIB

Kelakuan pemain Myanmar bikin petinggi PSSI geram

bolaindonesia | 14:15 WIB

Timnas Indonesia memainkan delapan pemain debutan saat mengalahkan Myanmar

bolaindonesia | 16:02 WIB

"Sold out! Alhamdulillah tiket untuk pertandingan kandang Indonesia melawan Laos dan Filipina di ASEAN Championships 2024 sudah terjual habis,"

bolaindonesia | 16:02 WIB

Apakah skuat muda Timnas Indonesia mampu mengalahkan Myanmar?

bolaindonesia | 15:58 WIB

Satoru Mochizuki ikut menyanyikan lagu Indonesia Raya

bolaindonesia | 18:39 WIB

Menurut Mochizuki, final Piala AFF Putri 2024 bukan pertandingan mudah.

bolaindonesia | 12:13 WIB

Skuad asuhan Bojan Hodak mengakhiri turnamen sebagai juru kunci dan hanya meraih lima poin dari enam laga.

bolaindonesia | 23:23 WIB

Di Kejuaraan ASEAN 2024, Indonesia tergabung di Grup B bersama Laos, Myanmar, Filipina, dan Vietnam.

bolaindonesia | 17:57 WIB

Arkhan Kaka membalas cibiran netizen dengan kontribusi gol

bolaindonesia | 15:02 WIB

Menurut Hilgers, ada perbedaan besar yang ia rasakan saat bermain di Liga Europa bersama dengan FC Twente dibanding membela Timnas Indonesia

bolaindonesia | 16:50 WIB
Tampilkan lebih banyak